Kalau masih ada yang bilang komik hanya bacaan untuk anak-anak maka orang tsb belum banyak membaca komik. Komik dewasa juga banyak bertebaran. Jadi tidak ada salahnya orang (yang lebih) tua turut serta memantau bacaan komik anak-anak. Toh sama seperti buku-buku lain, komik juga sering mengandung pelajaran bagi yang tua, meski dikemas secara ringan agar lebih mudah dicerna oleh anak-anak.
Salah satu seri komik favorit saya adalah Sunset on Third Street karya Saigan Ryohei. Pertama kali membaca ringkasan cerita saya langsung jatuh cinta.
Norifumi Suzuki dan istrinya, Tomoe, tinggal di blok tiga kota Yuuhi bersama anak mereka yang masih SD, Ippei. Bertahun-tahun mengumpulkan uang, akhirnya mereka bisa membangun sebuah bengkel kecil bernama “Suzuki Auto”. Selain mereka, banyak keluarga lain yang juga tinggal di blok tiga kota Yuuhi. Siapa aja sih? Ayo kita temui satu persatu…

Benar saja, di volume 1 kita diperkenalkan dengan para penghuni blok tiga kota Yuuhi. Berbagai kisah hidup mereka diceritakan secara singkat, padat, cenderung datar. Tidak ada kemunculan prince charming dengan bunga-bunga dan cahaya menyilaukan. Tidak ada pula adegan burung gagak lewat di antara suasana yang mendadak sunyi-kikuk *grin*

Salah satu kisah di volume 1 ini adalah “Di Bawah Pohon Sakura”. Tentang kenangan di bawah pohon sakura, tempat Tomoe menanti kekasihnya yang pergi berperang tapi tidak kunjung pulang. Akhirnya Tomoe menikah dengan Norifumi Suzuki, punya anak yaitu Ippei. Suatu hari Norifumi mengajak keluarganya piknik melihat sakura dan di sana ia bercerita kepada Ippei bahwa ia dan Tomoe bisa menikah karena sering berpapasan di bawah pohon sakura tsb. Tomoe hanya tersenyum, karena yang dinantinya bukanlah Suzuki melainkan kekasihnya yang tidak kunjung pulang, Nobuo. Yang lebih menghentakkan hati adalah beberapa tahun sebelumnya ketika Ippei masih kecil, Tomoe pernah tak sengaja bertemu dengan Nobou yang disangka telah mati, di bawah pohon sakura itu juga. Mereka asik bercakap-cakap sampai tidak menyadari Ippei memanjat pohon sakura tsb dan jatuh. Tomoe merasa bersalah. Nobuo membantu mengantarkan Ippei ke rumah sakit dan di sanalah ia bertemu dengan Norifumi. Selanjutnya suami Tomoe hanya mengenal Nonuo sebagai pria baik hati yang menyelamatkan anaknya. Itulah arti dari senyuman Tomoe.
Kinda sad, huh? Dan komik ini kaya akan berbagai hal. Ada kisah tentang adik-kakak kembar yang ternyata bukan saudara kandung, penulis yang belum berhasil mendapat penghargaan Akutagawa, seorang anak perempuan yang merasa sedih di hari Ibu karena terpaksa memakai bunga anyelir putih (tanda bahwa ibunya telah meninggal. Sedang yang masih punya ibu memakai anyelir merah), anak kaya manja yang jatuh miskin dan terpaksa pindah ke rumah yang lebuh kecil, dan masih banyak lagi.
Oh, kalo diteruskan saya bisa bercerita panjang lebar dan membuat anda bosan. Dan itu baru volume 1. Di volume 2 ada lebih banyak kejutan. Temanya adalah alat transportasi. Jadi cerita-ceritanya berhubungan dengan alat transportasi (taxi, mobil, trem, bus, kereta shounan, shinkasen, dll) berbagai masa di Jepang. Ada selipan informasi tentang alat-alat transportasi tsb mulai dari sejarah, jenis-jenisnya, harga, bahkan perawatannya. Tentang Stasiun Tokyo pun ada. Menarik kan?
Di volume 3, 4, 5 ceritanya makin variatif. Ada pula selipan tentang beracam-macam kamera. Disebutkan tahun 1950 adalah awal era keemasan kamera di Jepang. Semua diceritakan pada bagian yang berjudul “Selembar Foto”. Jika anda mencari bacaan ringan, padat, informatif, komik ini bisa jadi pilihan.
Buku ini bisa didapat di…?
Di setiap toko buku yang menyediakan komik m&c! dong. Mungkin sekarang agak susah dicari, berhubung komik lama. Harga Rp 17.000,- sebelum kenaikan harga komik baru-baru ini.