Judul : After Orchard
Penulis : Margareta Astaman
Penerbit :
Harga : Rp 38.000,-
Pengetahuan saya tentang Singapura hanya terbatas pada pelajaran geografi jaman SMP; siapa kepala pemerintahannya (Lee Kuan Yew. Iya, sudah ganti. Kan jaman SMP), luas daerahnya (lupa), jumlah penduduknya (apalagi ini), komoditas utama (surga belanja *grin*), dan lain-lain yang saya lupa. Berkunjung ke sana juga belum pernah. Ada yang mau ngajak? *eh* Jadi ketika iseng membeli buku ini satu minggu lalu, saya berniat untuk membaca tanpa gambaran jelas mau dibawa kemana hubungan kita wahai After Orchard?
After Orchard secara umum menceritakan plus-minus negara tetangga kita yang mungil tapi makmur itu. Dari sudut pandang penulis yang pernah berkuliah di universitas bergengsi di Singapura selama empat tahun pembaca disodori berbagai fakta unik mengenai Singapura, warganya, dan sistemnya. Terbagi atas empat bab;
- Kampusku Sayang, Kampusku… membahas tentang masa-masa kuliah penulisnya yang.. satu kata: keras. Saya langsung suka tokoh Oknum R yang digambarkan sebagai pengeluh nomor satu sedunia sekaligus orang paling update pergosipan seantero Singapura. Punya teman seperti oknum R nampaknya blessing in disguise deh
- Bisik-Bisik Singapura membahas fakta-fakta unik soal Singapur. Ada sembilan kisah di dalamnya. Cerita yang paling menarik saya tentu tentang penulis yang terjebak sistem pengobatan “tradisional” ala Singapura, berupa sebaris SOP yang mesti dipatuhi tanpa melenceng jalur. Gaya teratur memang sudah mendarah daging dalam segenap sendi kehidupan warganya termasuk para dokter. Padahal ya, ilmu kesehatan setau saya juga punya seni tersendiri. Dan seni, rasanya bukan teman baik keteraturan yang berlebihan. Tentu keteraturan dan disiplin punya banyak kelebihan. Salah dua cerita yang membuat saya mendecak iri ada di cerita “For Immediate Response” dan “PNS Oportunis”. Dan cerita berjudul “Gancheong” membuat saya bergidik ngeri. Kenapa? Baca sendiri dong ah
- Romancing Singapore.
- Lebih Singapur Dari Singapur, tentang orang bukan warga Singapur yang ketika berada di sana malah lebih Singapur, lebih kiasu, sangat “cocok” jadi warga sana.
Buku renyah yang enak dicerna. Setelah membaca buku ini sedikit banyak saya bersyukur jadi warga Indonesia, walaupun iri juga sih dengan kemajuan negara tsb. Tentu ada harga yang mesti dibayar untuk kemajuan, dan mereka yang mampu mengimbangi persyaratan ketat negara akan diganjar penghargaan. Di sana semua punya kesempatan sama dan mereka yang berhasil berusaha keras memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya yang “bertahan hidup”. Yang gagal, silahkan jadi warga kelas dua. Itu juga yang membuat saya iri. Di sini, di negara yang “berlandasakan kekeluargaan”, tidak semua punya kesempatan sama. Tetap saja, bukan negara yang tepat untuk orang seperti saya
Buku ini bisa didapat di… ?
Buku baru, jadi mudah didapat di toko buku besar. Harga Rp 38.000,-

aku suka cewek ini! cuma baru multiplynya doang sih, belum bukunya.
gaya bulisnya pasti asyik juga ya?
ternyata Tako udah baca. cepet banget.
asik banget. Selesai baca bukunya langsung meluncur ke blognya si penulis.. dan auwww i love love love deh
)
Target berikutnya Cruise On You. Pengen coba sesekali lah yang romantes romantes
begitulah singapura,
menurut saya negeri yang mahal
ah masih nyesel dulu itu ga sempet mampir ke padang
Habis baca buku perihal jalan2 ke UK, baca ini kayaknya sip nih.
mantap……:)