Judul : The Last Emperor; Kisah Tragis Kaisar Terakhir China
Penulis : Henry Pu Yi direvisi oleh Paul Kramer
Penerjemah : Fahmi Yamani
Penerbit : Serambi
Harga : Rp 65.000,-
Autobiografi Henry Pu Yi ini ditulis oleh dirinya sendiri dan direvisi oleh Paul Kramer. Buku ini merangkum kehidupan Pu Yi dari masa pertumbuhannya di dalam Kota Terlarang, restorasi singkatnya, pengasingannya, sampai masa penahanan dan dibebaskan kembali. Lalu ada catatan singkat dari Paul Kramer di bagian akhir buku.
Awalnya saya kira gaya penceritaan akan seperti novel, tapi ternyata tidak. Cukup detil, tapi saya tidak terlalu memperhatikan detil karena pengetahuan saya tentang kekaisaran Manchuoko dan negeri itu sendiri sungguh cetek. Tapi tak perlu khawatir juga, awam sejarah seperti saya masih bisa menikmatinya. Sejarah seorang manusia “spesial” karena telah dipilih oleh langit terlalu dramatis untuk dilewatkan, apalagi diceritakan sendiri olehnya.
Siapa saja bisa mabuk kepayang bila mendapatkan jabatan atau kedudukan tinggi. Apalagi bila sedari kecil (2 tahun!) ia diberi penghormatan berlebihan. Tak heran juga ia tumbuh dengan egoisme berlebih dan kemanjaan luar biasa. Begitulah yang terjadi pada Aisin-Gioro Pu Yi, Kaisar manchu terakhir. Berulangkali Pu Yi menyebutkan bahwa ia menganggap semua keistimewaan yang diberikan padanya dianggap hal yang wajar dan ia mengira orang-orang lain di luar tembok Kota Terlarang pun menerimanya. Dan ketika keadaan mulai berubah, Pu Yi gagap menghadapinya dan cenderung melakukan usaha apapun untuk menyelamatkan diri. Betul yang ditulis Paul Kramer bahwa sebagai kaisar, Pu Yi tidak lah menarik atau berkharisma. Hanya kekuatan militer Jepang yang menopang masa kekaisarannya yang singkat.
Tidak ada kesan kuat, teguh atau berwibawa dari sosk yang tergambar dalam buku ini. Hanya manusia biasa yang “kebetulan” mendapat mandat langit. Dan yang lebih membuat saya takjub adalah perubahan dirinya dari awal hidupnya yang penuh kemegahan menjadi seorang tua yang yah.. akrab dengan putus asa dan aniaya. Satu hal yang masih tetap ada pada dirinya; menghamba (kata menjilat terlalu keras sepertinya) pada kekuasaan. Terlihat dari bab-bab terakhir yang memuji dan menunjukkan keberhasilan reformasi diri yang diusung pemerintahan baru China. Yah, Pu Yi sepertinya memang sangat mencintai nyawanya. Better safe than die. Seperti yang tertera pada subjudul; tragis.
Begitulah kesan yang saya tangkap tentang Henry Pu Yi dari autobiografi ini.
.
Oya, saya biasanya tidak terlalu memperhatikan detil apalagi untuk buku-buku yang tidak terlalu saya pahami isinya, tapi ada beberapa tanggal yang tidak masuk akal di buku ini (di bab-bab masa awal kehidupan Pu Yi). Entah salah cetak atau memang kekhilafan penulisnya dalam mengingat waktu pasti. Cukup mengganggu.
Advertisement
Dari dulu pengen beli baca buku ini, tapi gak kesampaian. Huufff… Mudah-mudahan deh ntar ada waktunya dan dananya (bukunya aja belum punya, hehehe…).