Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Advertisements

Kisah Nyata Lagi, Angela’s Ashes

Judul : Angela’s Ashes
Penulis : Frank McCourt
Penerjemah : Meda Satria
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan ke II Januari 2010
ISBN : 978-602-8224-43-7
Harga : Rp 69.900,-
Siapa Frank McCourt? Saya tidak tahu. Kalau Angela’s Ashes? Oh, itu buku yang sudah berbulan-bulan nangkring di tumpukan buku yang belum terbaca dan masih terbungkus rapi di dalam plastik. Saya coba mengingat-ingat kembali apa yang membuat saya dulu tertarik untuk membelinya. Padahal tanpa diskon lho (soal harga aja inget :D). Hm.. seperti biasa, cover dan sinopsisnya. Cover berwarna coklat dihiasi potongan adegan film yang didasarkan pada buku ini. Ditambah tulisan berikut;
KISAH NYATA tentang anak kecil yang bertahan hidup dalam kemiskinan, cuaca yang tak bersahabat, penyakit, kematian, dan kekuasaan pemuka agama untuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik.
Kalimat ambisius provokatif di atas dan embel-embel peraih Pulitzer Prize, National Book Critics Circle Award, dan Royal Society of Literature Award yang ternyata bertanggungjawab atas pembelian impulsif saya saat itu. Setengah malas kemarin malam (24/12/2010 8 pm) saya mulai membacanya. Hasilnya? Liked it 🙂
Secara singkat alurnya persis seperti yang tertulis di [wikipedia]. Kisah Frank kecil (4tahun) bersama keluarganya yang baru saja pindah dari New York kembali ke tanah kelahiran orangtuanya, Irlandia. Frank adalah anak tertua dari pasangan Malachy McCourt dan Angela Sheehan. Frank punya banyak saudara. Ada Malachy Jr. satu tahun di bawahnya, Oliver & Eugene–si kembar yang belum genap satu tahun, dan Margaret–adik perempuan yang sudah mati dan lenyap. Kematian Margaret yang baru berusia beberapa minggu yang jadi pendorong utama keluarga McCourt pindah ke Irlandia. Setelah pindah pun, anak-anak McCourt tetap dekat dengan kematian. Pertama si kecil Ollie (Oliver) yang meninggal akibat pneumonia. Lalu Genie (Eugene) kembarannya menyusul beberapa minggu kemudian. Frank sendiri pernah hampir mati karena tifus pada usia 11 tahun.
Kehidupan mereka sangat kekurangan dan menderita, tapi lewat penuturan Frank, semuanya diceritakan secara humoris. Bagaimana mereka bertahan hidup hanya dari tunjangan St. Vincent de Paul, ayah yang susah mendapat pekerjaan karena aksen Irlandia Utara dan sifat jeleknya, belum lagi kebiasaan mabuk-mabukan sang ayah yang tidak terkendali sampai memaksa ibunya “mengemis” demi mengatasi kelaparan anak-anaknya. Pada akhirnya mereka semua selalu lapar dan kekurangan. Cita-cita tertinggi Frank pun sebatas jadi pria dewasa, punya pekerjaan yang menghasilkan beberapa pound per minggu, punya baju, sepatu, perapian hangat, makanan, tiket nonton film dan toffee.
Suram sekaligus lucu, dan ya, lincah. Banyak peristiwa yang sebetulnya “ngenes” diceritakan dari sisi lucu dan memancing tawa. Sepatu penuh tambalan ban karet, rumah dengan jamban umum satu gang yang membuat mereka kebauan sepanjang musim dingin dan bertambah parah di musim panas, kelahiran adik-adik baru Frank yang oleh ayahnya diakui dibawa oleh Malaikat Anak Tangga Ketujuh, guru-gurunya yang keras dan tidak suka pada murid yang senang bertanya, kepala sekolah yang memaksa mereka mengisi pikiran dan menentukan sendiri pilihan hidup, bibi yang cerewet, nenek yang selalu marah, paman yang gila, bahkan ayah yang tidak bertanggungjawab dan menelantarkan anak-istrinya. Semua kesuraman di atas dituturkan dengan penuh humor. Buku ini padat, lucu dan lincah (diulang-ulang terus ya?), bahasanya ringan dan terjemahannya enak dibaca.
Saya mungkin tidak mengenal Frank McCourt sebelumnya, juga tidak terlalu menggebu untuk melanjutkan membaca buku kelanjutannya [‘Tis] dan [Teacher Man], tapi menurut saya buku ini layak dibaca para pecinta autobiografi dan Irlandia 😀
Tambahan informasi, dua bersaudara McCourt, Frank dan Malachy, tampaknya cukup sukses di New York. Pantas saja sampai menulis autobiografi.

Buku Yang Mana? Ini Atau itu?

Sebagai orang yang belum punya duit meteran atau punya pohon uang yang kalau butuh tinggal dipetik tentu hobi mengoleksi buku harus disesuaikan dengan terbatasnya anggaran. Kadang kebablasan, tapi sejauh ini belum mengganggu kebutuhan utama. Belum. Tolong ditebalkan ya, BE-LUM.
Masalahnya, kadang pertarungan keinginan dan keterbatasan kemampuan berlangsung tidak adil. Saat ingin buku A, dananya sedang kurang. Di saat dana ada buku yang diinginkan habis. Akhirnya “terpaksa” membeli buku secara acak. Lagi-lagi sekedar memuaskan keinginan. Sayang rasanya kalau pulang tanpa menenteng buku.
Dalam memilih buku secara acak, setelah dipikir-pikir lagi, ternyata tidaklah seacak yang semula saya bayangkan. Ada pola tersendiri. Biasanya saya iseng mengacak-acak tumpukan buku. Mana yang covernya paling “menangkap mata”, itulah yang saya ambil duluan. Baca sinopsisnya, tertarik, baca cepat bab-bab awal. Oleh karena itu adanya buku tester sangat membantu *serasa kue* 😀
Kembali ke soal keterbatasan dana, saya sering harus memilih bukan hanya antara buku A dengan buku B tapi juga antara buku(-buku) dan keperluan sekunder lain. Contoh: saya membeli buku A maka saya akan mengurungkan membeli baju yang sedang diskon. Salah seorang penulis laris sudah pernah menyinggung hal ini. Persaingan (buku) itu justru bukan di antara satu industri (penerbitan), tapi dengan industri-industri lainnya. Pilih mana, beli buku seharga Rp 50.000,- atau baju/sepatu/sendal/makan di restoran cepat saji?
Pertarungan keinginan vs kebutuhan vs kemampuan akan berlangung abadi. Saya sering memenangkan keinginan. Yah, mudah-mudahan saja tak lama lagi saya punya pohon uang siap petik sehingga duit saya bisa sampai meteran. Amin, ya? 😉
____
Gambar dari sini

Ini Bukan Blog Resensi!

Ah masa?
Ah iya dong.
Kenapa?
Jujur, saya tidak terlalu pede menyebut apa yang saya tulis sebagai resensi. Semua yang ada di sini cuma kesan-kesan terhadap buku yang sudah saya baca. Kadang malah diselingi curcolan aneh nan ga penting *tunjuk-tunjuk alamat blog*
Jadi?
Apalagi frekuensi tulisan yang tidak teratur dan format sesukanya. Sungguh konsisten dalam ketidakkonsistenan.
Lalu?
Ya… sebut saja ini blog hobi (yang kebetulan suka) baca dan pamer buku. Ambigu. Yaaaa… kalian tau lah maksudnya.
Teruuuussss?
Nggg…. udah. Segitu saja. *nyengir lebar*

Empat Musim Cinta

Judul :Empat Musim Cinta; tentang aku, kamu dan rasa
Penulis : Adhitya Mulya, Andi F. Yahya, Hotma Juniarti, Andi Fauziah Yahya, Okke ‘Sepatumerah’, Rizki Pandu Permana, S.A.z Al-Fansyour, Veronika Kusuma Wijayanti
Penerbit : GagasMedia
Harga : Rp 30.000,-
Promosi di twitter akan mengena bila dilancarkan oleh orang-orang yang tepat. Bagi saya tepat adalah orang-orang yang tulisannya saya sukai. Empat Musim Cinta adalah kali kedua saya “termakan” iklan di twitter. Yang pertama adalah Oksimoron. Sudah dibaca tapi belum dibahas di sini. Nanti ya.. *kedip-kedip ke neng tia* 😀
Bertajuk “tentang aku, kamu dan rasa” buku ini berisi 16 cerita dari 8 penulis. Masing-masing penulis mendapat porsi 2 cerita. Yang paling saya sukai adalah cerita berjudul Pernah Jadi Aku? oleh Okke Sepatumerah. Ada pengalaman pribadi sih, hehe… Lalu ada Jalan Takdir oleh Hotma Juniarti. Alasannya tentu karena bertema ayah-anak perempuan.
Secara keseluruhan 14 cerita lainnya merangkum tema cinta dan pernak-perniknya. Ada (what-so-called) pengorbanan cinta, selingkuh, patah hati, pengkhianatan, cinta masa lalu, cinta sejati, dan cinta-cinta lainnya yang tidak terlalu saya mengerti tapi di beberapa bagian menimbulkan senyum. Namun untuk disebut musim cinta? Belum. Sepotong (atau beberapa potong) fragmen cinta mungkin ya? *sok tau* 😀
Terakhir, saya benar-benar termakan iklan! Kalau bukan dipromosikan oleh penulis melalui akun twitternya mungkin buku ini akan saya lewatkan, bukan sengaja mencarinya saat di toko buku. Kebiasaan menilai buku dari covernya sudah berkarat, dan cover buku ini bagus tapi.. let’s say i’m not into it. Cuma masalah selera saja.
Selera juga yang menempatkan buku ini sebagai it was ok di rak buku saya. Sekian. *ala bepe20* ;))

The Last Emperor; Kisah Tragis Kaisar Terakhir China

Judul : The Last Emperor; Kisah Tragis Kaisar Terakhir China

Penulis : Henry Pu Yi direvisi oleh Paul Kramer
Penerjemah : Fahmi Yamani
Penerbit : Serambi
Harga : Rp 65.000,-
Autobiografi Henry Pu Yi ini ditulis oleh dirinya sendiri dan direvisi oleh Paul Kramer. Buku ini merangkum kehidupan Pu Yi dari masa pertumbuhannya di dalam Kota Terlarang, restorasi singkatnya, pengasingannya, sampai masa penahanan dan dibebaskan kembali. Lalu ada catatan singkat dari Paul Kramer di bagian akhir buku.
Awalnya saya kira gaya penceritaan akan seperti novel, tapi ternyata tidak. Cukup detil, tapi saya tidak terlalu memperhatikan detil karena pengetahuan saya tentang kekaisaran Manchuoko dan negeri itu sendiri sungguh cetek. Tapi tak perlu khawatir juga, awam sejarah seperti saya masih bisa menikmatinya. Sejarah seorang manusia “spesial” karena telah dipilih oleh langit terlalu dramatis untuk dilewatkan, apalagi diceritakan sendiri olehnya.
Siapa saja bisa mabuk kepayang bila mendapatkan jabatan atau kedudukan tinggi. Apalagi bila sedari kecil (2 tahun!) ia diberi penghormatan berlebihan. Tak heran juga ia tumbuh dengan egoisme berlebih dan kemanjaan luar biasa. Begitulah yang terjadi pada Aisin-Gioro Pu Yi, Kaisar manchu terakhir. Berulangkali Pu Yi menyebutkan bahwa ia menganggap semua keistimewaan yang diberikan padanya dianggap hal yang wajar dan ia mengira orang-orang lain di luar tembok Kota Terlarang pun menerimanya. Dan ketika keadaan mulai berubah, Pu Yi gagap menghadapinya dan cenderung melakukan usaha apapun untuk menyelamatkan diri. Betul yang ditulis Paul Kramer bahwa sebagai kaisar, Pu Yi tidak lah menarik atau berkharisma. Hanya kekuatan militer Jepang yang menopang masa kekaisarannya yang singkat.
Tidak ada kesan kuat, teguh atau berwibawa dari sosk yang tergambar dalam buku ini. Hanya manusia biasa yang “kebetulan” mendapat mandat langit. Dan yang lebih membuat saya takjub adalah perubahan dirinya dari awal hidupnya yang penuh kemegahan menjadi seorang tua yang yah.. akrab dengan putus asa dan aniaya. Satu hal yang masih tetap ada pada dirinya; menghamba (kata menjilat terlalu keras sepertinya) pada kekuasaan. Terlihat dari bab-bab terakhir yang memuji dan menunjukkan keberhasilan reformasi diri yang diusung pemerintahan baru China. Yah, Pu Yi sepertinya memang sangat mencintai nyawanya. Better safe than die. Seperti yang tertera pada subjudul; tragis.
Begitulah kesan yang saya tangkap tentang Henry Pu Yi dari autobiografi ini.
.
Oya, saya biasanya tidak terlalu memperhatikan detil apalagi untuk buku-buku yang tidak terlalu saya pahami isinya, tapi ada beberapa tanggal yang tidak masuk akal di buku ini (di bab-bab masa awal kehidupan Pu Yi). Entah salah cetak atau memang kekhilafan penulisnya dalam mengingat waktu pasti. Cukup mengganggu.

After Orchard

Judul : After Orchard
Penulis : Margareta Astaman
Penerbit :
Harga : Rp 38.000,-

Pengetahuan saya tentang Singapura hanya terbatas pada pelajaran geografi jaman SMP; siapa kepala pemerintahannya (Lee Kuan Yew. Iya, sudah ganti. Kan jaman SMP), luas daerahnya (lupa), jumlah penduduknya (apalagi ini), komoditas utama (surga belanja *grin*), dan lain-lain yang saya lupa. Berkunjung ke sana juga belum pernah. Ada yang mau ngajak? *eh* Jadi ketika iseng membeli buku ini satu minggu lalu, saya berniat untuk membaca tanpa gambaran jelas mau dibawa kemana hubungan kita wahai After Orchard?
After Orchard secara umum menceritakan plus-minus negara tetangga kita yang mungil tapi makmur itu. Dari sudut pandang penulis yang pernah berkuliah di universitas bergengsi di Singapura selama empat tahun pembaca disodori berbagai fakta unik mengenai Singapura, warganya, dan sistemnya. Terbagi atas empat bab;
  1. Kampusku Sayang, Kampusku… membahas tentang masa-masa kuliah penulisnya yang.. satu kata: keras. Saya langsung suka tokoh Oknum R yang digambarkan sebagai pengeluh nomor satu sedunia sekaligus orang paling update pergosipan seantero Singapura. Punya teman seperti oknum R nampaknya blessing in disguise deh 😀
  2. Bisik-Bisik Singapura membahas fakta-fakta unik soal Singapur. Ada sembilan kisah di dalamnya. Cerita yang paling menarik saya tentu tentang penulis yang terjebak sistem pengobatan “tradisional” ala Singapura, berupa sebaris SOP yang mesti dipatuhi tanpa melenceng jalur. Gaya teratur memang sudah mendarah daging dalam segenap sendi kehidupan warganya termasuk para dokter. Padahal ya, ilmu kesehatan setau saya juga punya seni tersendiri. Dan seni, rasanya bukan teman baik keteraturan yang berlebihan. Tentu keteraturan dan disiplin punya banyak kelebihan. Salah dua cerita yang membuat saya mendecak iri ada di cerita “For Immediate Response” dan “PNS Oportunis”. Dan cerita berjudul “Gancheong” membuat saya bergidik ngeri. Kenapa? Baca sendiri dong ah 😛
  3. Romancing Singapore.
  4. Lebih Singapur Dari Singapur, tentang orang bukan warga Singapur yang ketika berada di sana malah lebih Singapur, lebih kiasu, sangat “cocok” jadi warga sana.
Buku renyah yang enak dicerna. Setelah membaca buku ini sedikit banyak saya bersyukur jadi warga Indonesia, walaupun iri juga sih dengan kemajuan negara tsb. Tentu ada harga yang mesti dibayar untuk kemajuan, dan mereka yang mampu mengimbangi persyaratan ketat negara akan diganjar penghargaan. Di sana semua punya kesempatan sama dan mereka yang berhasil berusaha keras memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya yang “bertahan hidup”. Yang gagal, silahkan jadi warga kelas dua. Itu juga yang membuat saya iri. Di sini, di negara yang “berlandasakan kekeluargaan”, tidak semua punya kesempatan sama. Tetap saja, bukan negara yang tepat untuk orang seperti saya 😀
Buku ini bisa didapat di… ?
Buku baru, jadi mudah didapat di toko buku besar. Harga Rp 38.000,-

Sunset on Third Street

Kalau masih ada yang bilang komik hanya bacaan untuk anak-anak maka orang tsb belum banyak membaca komik. Komik dewasa juga banyak bertebaran. Jadi tidak ada salahnya orang (yang lebih) tua turut serta memantau bacaan komik anak-anak. Toh sama seperti buku-buku lain, komik juga sering mengandung pelajaran bagi yang tua, meski dikemas secara ringan agar lebih mudah dicerna oleh anak-anak.
Salah satu seri komik favorit saya adalah Sunset on Third Street karya Saigan Ryohei. Pertama kali membaca ringkasan cerita saya langsung jatuh cinta.
Norifumi Suzuki dan istrinya, Tomoe, tinggal di blok tiga kota Yuuhi bersama anak mereka yang masih SD, Ippei. Bertahun-tahun mengumpulkan uang, akhirnya mereka bisa membangun sebuah bengkel kecil bernama “Suzuki Auto”. Selain mereka, banyak keluarga lain yang juga tinggal di blok tiga kota Yuuhi. Siapa aja sih? Ayo kita temui satu persatu…

Benar saja, di volume 1 kita diperkenalkan dengan para penghuni blok tiga kota Yuuhi. Berbagai kisah hidup mereka diceritakan secara singkat, padat, cenderung datar. Tidak ada kemunculan prince charming dengan bunga-bunga dan cahaya menyilaukan. Tidak ada pula adegan burung gagak lewat di antara suasana yang mendadak sunyi-kikuk *grin*

Salah satu kisah di volume 1 ini adalah “Di Bawah Pohon Sakura”. Tentang kenangan di bawah pohon sakura, tempat Tomoe menanti kekasihnya yang pergi berperang tapi tidak kunjung pulang. Akhirnya Tomoe menikah dengan Norifumi Suzuki, punya anak yaitu Ippei. Suatu hari Norifumi mengajak keluarganya piknik melihat sakura dan di sana ia bercerita kepada Ippei bahwa ia dan Tomoe bisa menikah karena sering berpapasan di bawah pohon sakura tsb. Tomoe hanya tersenyum, karena yang dinantinya bukanlah Suzuki melainkan kekasihnya yang tidak kunjung pulang, Nobuo. Yang lebih menghentakkan hati adalah beberapa tahun sebelumnya ketika Ippei masih kecil, Tomoe pernah tak sengaja bertemu dengan Nobou yang disangka telah mati, di bawah pohon sakura itu juga. Mereka asik bercakap-cakap sampai tidak menyadari Ippei memanjat pohon sakura tsb dan jatuh. Tomoe merasa bersalah. Nobuo membantu mengantarkan Ippei ke rumah sakit dan di sanalah ia bertemu dengan Norifumi. Selanjutnya suami Tomoe hanya mengenal Nonuo sebagai pria baik hati yang menyelamatkan anaknya. Itulah arti dari senyuman Tomoe.
Kinda sad, huh? Dan komik ini kaya akan berbagai hal. Ada kisah tentang adik-kakak kembar yang ternyata bukan saudara kandung, penulis yang belum berhasil mendapat penghargaan Akutagawa, seorang anak perempuan yang merasa sedih di hari Ibu karena terpaksa memakai bunga anyelir putih (tanda bahwa ibunya telah meninggal. Sedang yang masih punya ibu memakai anyelir merah), anak kaya manja yang jatuh miskin dan terpaksa pindah ke rumah yang lebuh kecil, dan masih banyak lagi.
Oh, kalo diteruskan saya bisa bercerita panjang lebar dan membuat anda bosan. Dan itu baru volume 1. Di volume 2 ada lebih banyak kejutan. Temanya adalah alat transportasi. Jadi cerita-ceritanya berhubungan dengan alat transportasi (taxi, mobil, trem, bus, kereta shounan, shinkasen, dll) berbagai masa di Jepang. Ada selipan informasi tentang alat-alat transportasi tsb mulai dari sejarah, jenis-jenisnya, harga, bahkan perawatannya. Tentang Stasiun Tokyo pun ada. Menarik kan?
Di volume 3, 4, 5 ceritanya makin variatif. Ada pula selipan tentang beracam-macam kamera. Disebutkan tahun 1950 adalah awal era keemasan kamera di Jepang. Semua diceritakan pada bagian yang berjudul “Selembar Foto”. Jika anda mencari bacaan ringan, padat, informatif, komik ini bisa jadi pilihan.
Buku ini bisa didapat di…?
Di setiap toko buku yang menyediakan komik m&c! dong. Mungkin sekarang agak susah dicari, berhubung komik lama. Harga Rp 17.000,- sebelum kenaikan harga komik baru-baru ini.

Silabus Bacaan

Berikut adalah daftar 100 Buku Yang Berpengaruh Di Dalam Sejarah Dunia yang ditulis oleh Miriam Raftery. Buku ini salah satu Seri Sekilas Mengetahui, terbitan Karisma Publishing Group. Sedikit banyak berbeda dengan daftar yang ada di sini. Jelas masing-masing penulis punya pertimbangan tersendiri buku-buku apa saja yang mereka masukkan ke dalam daftar 100 buku tsb.

  1. Epic Of Gilgamesh (± 2700-1500 SM)
  2. The Egyptian Book Of Dead (± 2400-1420 SM)
  3. Iliad (± 800 SM) Homer
  4. Aesop’s Fables (± 600-560 SM) Aesop
  5. Hipocratic Corpus (± abad ke-5 SM) Hipokrates
  6. The History Of Herodotus (± 440 SM) Herodotus
  7. The Analects Of Confucius (429 SM) Kong Hu Cu
  8. Republic (± 378 SM) Plato
  9. Nicomachean Ethics (± 330 SM) Aristoteles
  10. On The Republic (51 SM) Marcus Tullius Cicero
  11. Al Qur’an (± 652 Masehi)
  12. The Tale Of Genji (± 1010) Murasaki Shikibu
  13. The Travels Of Marco Polo (± 1300) Marco Polo
  14. The Divine Comedy (± 1320) Dante Alighieri
  15. Alkitab Gutenberg (1455)
  16. The Prince (1513) Niccolo Machiavelli
  17. Utopia (1516) Thomas More
  18. Ninety Five-These (1517) Martin Luther
  19. The Fabric Of The Human Body (1543) Andreas Vesalius
  20. On The Revolutions Of The Celestial Spheres (1543) Nicolaus Copernicus
  21. Romeo and Juliet (1594) William Shakespeare
  22. Don Quoxiote De La Mancha (1605) Miguel de Cervantes
  23. Treatise On Painting (1651) Leonardo da Vinci
  24. The Pilgrim’s Progress (1678;1684) John Bunyan
  25. Mathematical Principles Of Natural Philosophy (1689) Isaac Newton
  26. Two Treatises Of Government (1690) John Locke
  27. Robinson Crusoe (1719) Daniel Defoe
  28. Poor Richard’s Almanack (1732-1757) Benjamin Franklin
  29. The Social Contract (1762) Jean Jacques Rousseau
  30. Inquiry Into The Nature And Cause Of The Wealth Nations (1776) Adam Smith
  31. Common Sense (1776) Thomas Paine
  32. The Federalist Papers (1787-1788) Hamilton, Madison and Jay
  33. A Vindication Of The Rights Of Woman (1792) Mary Wollstonecraft
  34. Cartagena Manifesto (1812) Simon Bolivar
  35. Pride And Prejudice (1813) Jane Austen
  36. The Last Of Mohicans (1826) James Fenimore Cooper
  37. Nature (1836) Ralph Waldo Emerson
  38. A Christmas Carol (1843) Charles Dickens
  39. Tales (1845) Edgar Allan Poe
  40. Narrative Of The Life Of Frederick Douglass (1845) Frederick Douglass
  41. Wuthering Heights (1847) Emily Bronte
  42. Civil Disobedience (1849) Henry David Thoreau
  43. David Copperfield (1849-1850) Charles Dickens
  44. The Scarlet Letter (1850) Nathaniel Hawthorne
  45. Uncle Tom’s Cabin (1851-1852) Harriet Beecher Stowe
  46. Moby Dick (1851) Herman Meville
  47. On The Origin Of Species (1859) Charles Darwin
  48. Alice’s Adventure In Wonderland (1865) lewis Carroll
  49. Das Kapital (1867) Karl Max
  50. Little Women (1868) Louisa May Alcott
  51. Twenty Thousand Leagues Under The Sea (1870) Jules Verne
  52. The Brothers Karamazov (1879-1880) Fyodor Dostoevsky
  53. Treasure Island (1883) Robert Louis Stevenson
  54. The Adventure Of Huckleberry Finn (1884) Mark Twain
  55. War And Peace (1886) Leo Tolstoy
  56. A Study In Scarlet (1887) Sir Arthur Conan Doyle
  57. The Jewish State (1896) Theodor Herzl
  58. The War Of The Worlds (1898) H.G. Wells
  59. The Interpretation Of Dreams (1900) Sigmund Freud
  60. Up From Slavery (1901) Booker T. Washington
  61. The Story Of My Life (1902) Helen Keller
  62. The Call Of The Wild (1903) Jack London
  63. The Jungle (1906) Upton Sinclair
  64. Riders Of The Purple Sage (1912) Zane Grey
  65. O Pioneers! (1913) Willa Cather
  66. Sons and Lovers (1913) D.H. Lawrence
  67. Relativity: The Special And General Theory (1916) Albert Einstein
  68. Siddharta (1922) Herman Hesse
  69. Ulysses (1922) James Joyce
  70. The Great Gatsby (1925) F. Scott Fitzgerald
  71. Mein Kampf (1925;1927) Adolf Hitler
  72. The Sun Also Rises (1926) Ernest Hemingway
  73. The Oxford English Dictionary (1928)
  74. All Quiet On The Western Front (1929) Erich Maria Remarque
  75. The Sound And The Fury (1929) William Faulkner
  76. The Maltese Falcoon (1930) Dashiell Hammet
  77. The Good Earth (1931) Pearl S. Buck
  78. Brave New World (1932) Aldous Huxley
  79. Story Of Civilization (1935-1975) Will & Ariel Durant
  80. Gone With The Wind (1936) Margaret Mitchell
  81. The Grapes Of Wrath (1939) John Steinbeck
  82. Native Son (1940) Richard Wright
  83. The Common Sense Book Of Baby And Child Care (1946) Benjamin Spock
  84. Anne Frank: The Diary Of A Young Girl (1947) Anne Frank
  85. Cry, The Beloved Country (1948) Alan Paton
  86. The Second World War ( 1948-1954) Winston Churchill
  87. The Catcher In The Rye (1951) J.D. Salinger
  88. Lord Of The Flies (1954) William Golding
  89. To Kill A Mockingbird (1960) Harper Lee
  90. Catch-22 (1961) Joseph Heller
  91. Silent Spring (1962) Rachel Carson
  92. The Feminine Mystique (1963) Betty Friedan
  93. Understanding Media: The Extensions Of Man (1964) Marshall McLuhan
  94. Unsafe At Any Speed (1965) Ralph Nader
  95. Quotations Of Chairman Mao (1966) Mao Tse-tung
  96. One Hundred Years Of Solitude (1967) Gabriel Garcia Marquez
  97. Bury My Heart At Wounded Knee (1971) Dee Brown
  98. The Gulag Archipelago (1973-1975) Aleksandr Solzhenitsyn
  99. Beloved (1987) Toni Morrison
  100. A Brief History Of Time, Updated and Expanded (1998) Stephen Hawking


Beberapa hari lalu secara sesumbar saya mengatakan ingin menjadikan daftar buku di atas sebagai proyek pribadi; pada usia 27 tahun sudah membaca semua buku di atas. Sombong sekali ya? Padahal buku daftar buku ini saja belum habis saya baca. Dan beberapa buku di atas nampaknya susah dicari plus susah saya cerna 😀

Tapi dasar suka sradak-sruduk dan kurang perhitungan sekaligus sedang dilanda kebosanan hebat, saya tetap bersemangat (yah, tidak terlalu sih) menjadikan daftar di atas sebagai Silabus Bacaan. Mungkin tidak semua. Epic Of Gilgamesh tampaknya susah dicari. The Egyptian Book Of Dead sepertinya mengerikan, coret (toh isinya seperti ensiklopedia pengawetan mumi, ulas si penulis). Buku-buku filosofi dan pemerintahan jelas dicoret juga, susah saya cerna. Al-Qur’an dan Alkitab Gutenberg juga saya kesampingkan. Dan yang ditebalkan adalah buku-buku yang sudah saya baca (walau lupa-lupa ingat detil ceritanya). Jadi tinggal… ahem, sekitar 44. Sungguh jauh perbedaannya.

Dari “sedikit” itu (banyak juga woi!), siapa tau saya bisa mengalami apa yang ditulis Miriam Raftery di Pendahuluannya; “mengubah persepsi pembaca mengenai diri mereka atau dunia mereka sendiri”. Selain itu bisa jadi bahan untuk menerka-nerka buku-buku berpengaruh abad 21 dipengaruhi oleh buku mana saja? Memang masih terlalu sedikit untuk jadi perbandingan, tapi setidaknya bisa jadi pijakan awal (pembenaraaaannn hahaha)

Nah, tertarik juga pada daftar di atas? Buku mana saja yang sudah anda baca?

Hanya Salju dan Pisau Batu

Bagaimana gaya membaca Anda? Berurutan dari halaman pertama sampai terakhir? Apakah membaca detil-detil buku? Kata pengantar? Atau malah gaya membaca lompat-lompat; 5 halaman awal, lanjut ke pertengahan buku lalu menclat ke lembar-lembar akhir buku, tamat?

Judul : Hanya Salju dan Pisau Batu

Penulis : Happy Salma & Pidi Baiq
Penerbit : Qanita
Cetakan I, Sya’ban 1431 H/Juli 2010

Adalah buku berjudul Hanya Salju dan Pisau Batu yang menemani libur lebaran kemarin. Pembelian impulsif karena kadung ngefans pada penulisnya 😀 Ditambah beberapa teman yang sudah lebih dulu membaca menyebutkan buku ini “aneh”. Rasa penasaran bertambah begitu membaca Kata Pengantar dari Hikmat Darmawan. Unik, terpisah dari buku, hanya berupa selembar kertas. Serasa membaca surat yang ditujukan khusus pada pembaca, meski bukan tulisan tangan sih 😀
Pada pengantar Hikmat Darmawan mengajak pembaca untuk menikmati saja buku ini dengan cara masing-masing tanpa terlalu mengindahkan pakem genre buku. Kurang lebih begitu. Dan ya, setelah 4 buku Drunken memangnya saya masih peduli pada batas-batas tsb? Gila apa! :)) Maka dengan rasa penasaran dan sedikit antisipasi saya mulai membaca buku ini.
Benar saja, tak jelas apakah ini novel ataukah kumpulan cerpen. Entah horror, komedi, atau drama, meski labelnya menyebutkan fiksi humor. Baiklah. Saya setuju saja. Jelas ini fiksi. Tapi humor? Duh, saya malah menangis pada beberapa bagian (cerita yang berjudul “Bapak”), meringis saat membaca umpan balik dari pak Pidi atas cerita “Berteduh”-nya Happy Salma, dan malah ketawa garing saat membaca tulisan yang membahas cinta.
Kalau diibaratkan buku ini seperti lomba bersambut pantun yang selalu diadakan saat bulan Bahasa di SMA saya dulu. Lomba paling menarik dari rangkaian lomba yang ada. Paling menarik karena kami, para penonton (atau dalam buku ini selaku pembaca) deg-degan menanti kalimat apa yang akan keluar dari para peserta untuk kemudian tertawa riuh atas pantun yang menggelitik atau malah meledek habis-habisan atas kegaringan yang mereka buat.
Itu juga yang terjadi sepanjang membaca buku ini. Deg-degan, tapi tak sanggup melompati halaman karena pasti tersesat. Saya tak bisa jadi pembaca curang yang suka mengintip halaman terakhir lalu kehilangan minat baca. Tidak pada buku ini karena ia lebih curang daripada saya. Jadilah saya manut membaca halaman per halaman sampai usai. Setelah itu? Bingung. Ini buku bahas apa ya? Hahaha. Yang jelas ia jadi penghuni tetap tas saya, berjaga-jaga kalau saya perlu membunuh waktu.
Kesimpulannya? Saya jadi suka pada tulisan Happy Salma, dan kagum pada tulisan serius pak Pidi Baiq. Sekian.
@takodok iya buku Hanya Salju dan Pisau Batu, adalah buku seandainya saya sedikit menjurus serius. -pidibaiq-